Modul LMS untuk menampilkan Course Statistics

Moodle memiliki data logging yang bisa kita query untuk menampilkan jumlah hits pada setiap course yang dipublikasikan pada suatu situs eLearning. Data hits tersebut dapat kita gunakan untuk mengukur popularitas dari suatu course. Untuk kebutuhan tersebut , kami membuat modul LMS untuk bisa menampilkan data log user . Modul tersebut kemudian ditampilkan dengan menggunakan grafik menggunakan javascript highcharts. Persoalannya kemudian muncul pada saat versi moodle diupgrade dari moodle 2.6 menjadi moodle 2.7 . Data tersebut tidak lagi tersedia.

image

Usut demi usut dilakukan ternyata skema logging pada lms moodle 2.7 jauh berbeda dengan versi di bawahnya. Logging pada versi ini sudah menjadi plugins yang dapat aktif dan di-non-aktifkan. Setelah modul tersebut aktif baru kemudian modul lms course statistics ini bisa ditampilkan kembali .

eLearning sebagai Wujud Pemberdayaan ICT (information-communication-technology)

Berkaitan dengan ICT ,  ada tiga kata yang menyusunnya yaitu : information-communication-technology. Secara bebas , ketiganya dapat di artikan sebagai berikut. Information merupakan gambaran sesuatu yang bisa membuat menjadi terang benderang. Tadinya mau saya katakan pengetahuan. Tapi teringat bahwa informasi merupakan kumpulan data yang tersirat ataupun tersurat , sedangkan pengetahuan merupakan kumpulan informasi. Communication merupakan interaksi antara orang dengan orang, atau orang dengan kelompok orang. Technology adalah alat atau perangkat yang digunakan. Gabungan ketiga kata di atas membuat ICT bisa diartikan sebagai teknologi digunakan untuk mengkomunikasikan informasi. 

Penerapan ICT ini memerlukan perancangan dampak / outcome yang diharapkan. Tanpa perancangan dampak / outcome akan membuat penerapan teknologi ini menjadi pemborosan dan pembiayaan bagi personal atau secara institusional. Dengan menyusun poin-poin dampak atau outcome maka pemanfaatan ICT dapat mentransformasikan personal atau institusional menjadi bentuk baru yang lebih baik, eskalasi dan akselerasi lebih cepat, cakupan skala yang lebih besar, serta pembiayaan yang efektif . Memikirkan dampak pemanfaatan ICT ini perlu dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Dengan menetapkan kriteria kinerja teknologi yang didefinisikan maka dapat dimonitor pemanfaatan teknologi, juga dapat dibuat rancangan pemberdayaannya untuk mendukung fungsi-fungsi yang ada baik personal maupun institusional. 

Teknologi hanya semata menjadi media / wadah. Dengan penggunaan yang tepat, teknologi dapat mendukung tercapainya visi dan misi baik individu maupun institusi dalam format sebagai tool transformasi, tool enabler, dan tool supporting . Level atau tingkatan pemanfaatan tersebut ditentukan dari perancangan tadi . Termasuk diantaranya adalah pemberdayaan eLearning sebagai wujud pemanfaatan teknologi dalam mentransformasi, meng-enable-kan, atau men-support fungsi-fungsi pendidikan dan pembelajaran. 

Perancangan yang baik haruslah memperhatikan kondisi eksisting, kondisi hasil(output dan outcome), serta hasil-hasil/kriteria antara yang diinginkan. Pada saat dilakukan evaluasi dan  muncul gap terhadap kriteria tersebut, maka bisa dilakukan iterasi atau pengulangan berupa re-design yang bisa meminimalkan gap tersebut. 

Mudah-mudahan kita adalah insan yang selalu merencanakan dan merancangkan dampak dari penggunaan teknologi yang sekarang kita manfaatkan untuk mentransformasikan diri kita atau institusi kita menjadi bentuk yang sesuai dengan pengharapan .

Menambah Fungsionalitas LMS dengan Add-on Plugins

Pada saat LMS sudah berjalan , disetel pada suatu lingkungan server yang handal dan teroptimasi dengan baik seringkali muncul kebutuhan tambahan untuk meningkatkan kinerja atau menambah fungsionalitas LMS . Tentu saja kebutuhan tadi memerlukan pertimbangan dari tim pengelola LMS supaya tambahan tadi tidak mengganggu atau mengurangi kinerja sesuai standar yang ditetapkan. 

LMS Moodle merupakan software sistem yang dirancang untuk ekstentabilitas dan fleksibilitas yang tinggi. Rancangan tersebut memungkinkan modul software ditambahkan pada sistem inti Moodle. Modul tersebut bisa diperoleh dari hasil download dari situs moodle ataupun bisa dari hasil pengembangan internal . 

Tipe modul add-on untuk LMS Moodle terbagi menjadi tiga : activities add-on, block, dan filter. Add-on tersebut dapat diakses pada bagian ‘Administration’ > ‘Plugins’ . Daftar add-on yang secara default sudah disetel pada saat instalasi dapat kita lihat di bagian ‘plugins overview’.

Menambahkan Fungsionalitas LMS

Pada saat diputuskan untuk menambah fungsionalitas LMS , kemudian kita harus mencari modul yang akan ditambahkan tersebut atau mengembangkan sendiri . Ketika modul sudah ditemukan , langkah selanjutnya adalah men-setup modul tersebut ke sistem LMS yang sedang berjalan . 

LMS Moodle menyediakan perkakas untuk setup module add-on yaitu menu ‘install add-on’ yang pada menu ‘Administration | plugins’ . Perkakas tersebut memiliki fitur yang lengkap untuk meng-uploadkan modul, kemudian memeriksa kompatibilitas modul dengan sistem eksisting, serta melakukan proses instalasi . 

Modul tadi yang sudah kita siapkan, cukup kita upload-kan pada form yang tersedia di menu ‘install add-on’ ini , kemudian kita isi beberapa kolom wajib yang ada di sana. Bila sudah selesai , kemudian kita ikuti langkah-langkah instalasi. Langkah tersebut cukup sederhana untuk diikuti. Dalam jangka waktu yang singkat , modul siap untuk disajikan pada halaman course. 

Selain untuk tiga tipe add-on di atas , menu ‘install add-on’ ini juga dapat digunakan untuk setup themes pada Moodle . Kalau bisa disebut , tool ini adalah ‘swiss knife’ untuk admin Moodle dalam mengelola penambahan atau pengurangan modul-modul di LMS Moodle. 

Bila proses setup selesai, lakukan langkah testing. Langkah ini sangat diperlukan untuk melihat fungsionalitas dari add-on yang kita tambahkan.

Mengoptimalkan Course Enrolment Sistem eLearning dengan Cohort dan Cohort Sync

Salah satu tantangan besar dalam pengelolaan sistem eLearning adalah semua hal yang berkaitan dengan ‘user’ . Jumlah user yang besar menghasilkan kompleksitas tersendiri . Urusannya menjadi banyak karena sistem harus mengikuti flow proses . Apalagi yang berkaitan dengan alir proses user . Sistem yang efisien adalah sistem yang dapat mengalirkan user dengan baik . Mulai dari start sampai dengan end, serta tidak ada ‘endapan user’ atau residu pada sistem . Kriteria process completeness dalam hal ini menjadi bagian penting dalam sistem. 

Salah satu tool yang ditawarkan LMS Moodle adalah ‘cohort’ . Cohort didefinisikan sebagai site-wide group yaitu Kelompok yang di-create pada system berfungsi sebagai sampan / perahu yang akan membawa penumpangnya melalui pulau pulau pembelajaran. Pulau-pulau berupa course topic ini bisa disetting default enrolment-nya pada cohort sync . 

Hanya penumpang perahu yang terdaftar yang kemudian dapat menikmati bahan / konten pembelajaran . Pada saat perahu harus berlayar kembali , maka semua penumpang harus naik dan mengikuti alur perahu tersebut. Untuk menambah dan mengurangi penghuni pulau , cukup dilakukan pada pengaturan penumpang perahu yang berlabuh di pantai tersebut. 

Dampak dari ketersediaan tool ini tentu saja dapat memudahkan pengaturan sistem eLearning. Semua user pembelajaran dikelompokkan pada cohort title yang akan membawanya pada skenario pembelajaran dengan goal tertentu yang didefinisikan . Dengan demikian, maka sistem akan efisien . Kapasitas sistem akan bisa ditentukan . Serta pengelolaan course enrolment menjadi lebih sederhana.

Menangani Error pada Database Aplikasi LMS

Pada saat membuat server eLearning , perhatian kebutuhan storage difokuskan pada ukuran kapasitas file repostiory untuk data dokumen, file multimedia, audio, video dan lainnya. Implikasinya adalah pembuatan partisi khusus untuk data atau moodledata. Seringkali kebutuhan storage untuk penyimpanan database terabaikan . Padahal setiap saat, ketika aplikasi LMS digunakan , storage database tersebut bertambah . Interaksi yang berjalan pada LMS menambah ukuran storage database tersebut. Bisa kita bayangkan bila jumlah user yang mengakses sangat besar . 

Dampaknya ketika storage database sudah full , maka database tadi tidak bisa lagi diisi / ditulis. Tentu saja hal tersebut menyebabkan aplikasi menjadi tidak bisa diakses. Pesan errornya bisa bermacam-macam, mulai dari database not writable, database failed , database is not accesible dan lain-lain. Solusinya adalah dengan memindahkan file /data pada database tersebut ke partisi lain yang kapasitasnya lebih besar. Cara ini mutlak harus dilakukan , kecuali memang mesinnya yang kemudian diganti. 

Untuk mengganti atau memindahkan partisi ini , langkah cukup sederhana . Yaitu kita buat folder /data di partisi baru. Kemudian kita pindahkan data-data yang ada di folder database (untuk mysql biasanya ada di folder /var/mysql/data ; ke partisi baru tersebut. Setelah berhasil kita pindahkan , kemudian kita edit setting pada /etc/my.cnf pada baris ‘datadir’ disesuaikan dengan path lokasi yang baru. Pastikan pula bahwa service database dalam kondisi off . 

Bila sudah selesai , kemudian lakukan langkah testing . Cek setiap data pada aplikasi LMS bisa diakses dengan baik . Lakukan debugging selama kurun waktu tertentu untuk menjamin aplikasi berjalan dengan baik . 

Strategi Peningkatan Kapasitas Institusi dengan Penerapan E-learning dalam Pembelajaran

Tiga tahun lalu tim kami diberi kepercayaan untuk mengimplementasikan eLearning di suatu perusahaan . Misi yang diemban seiring dengan visi di perusahaan tersebut untuk membangun sumberdaya manusia yang mumpuni untuk mendukung perusahaan menjadi world-class company tahun 2015. Implementasi eLearning tersebut bertujuan untuk optimalisasi kinerja sistem e-learning dan segenap perangkat pendukung meliputi (1) Learning Management System (LMS), (2) infrastruktur eLearning, (3) tata kelola sistem dan perangkat organisasinya. 

Peningkatan kapasitas eLearning yang dilakukan karena meningkatnya potensi pembelajaran yang harus dilakukan di perusahaan tersebut. Tahap pertama yang kami lakukan adalah analisa kebutuhan kapasitas pembelajaran tersebut. Dengan mengetahui kebutuhan kapasitas ini , maka akan dapat diperoleh peta kebutuhan infrastruktur, performa sistem, serta tata organisasi yang dapat menyokong operasi sistem . 

Sebagaimana kita bersama ketahui, sistem eLearning ini tidak seperti sistem website perusahaan yang bisa ditinggal setelah kita deploy. Sistem eLearning memerlukan engaging organization yang menopang operasionalnya. Sistem ini dirancang untuk memberikan manfaat yang besar kepada stakeholdernya berupa media teknologi yang bisa digunakan oleh semua pekerja untuk meningkatkan diri dan kompetensinya dalam kerangka meningkatkan kualitas perusahaan tersebut. 

Perancangan eLearning harus dilandasi oleh kebutuhan pembelajaran yang ada pada institusi tersebut. Kebutuhan ini dapat dilihat dari (1) urgensi pembelajaran, (2) kebutuhan sumberdaya manusia dengan kompetensi tertentu (3) massiveness/volume (4) positioning peningkatan kualitas sdm dalam menyokong visi dan isi perusahaan

Pada saat empat faktor pokok tersebut sudah terdefinisikan maka berikutnya adalah tinggal menentukan konsep model pembelajaran yang tepat dengan memanfaatkan sistem eLearning ini . 

Dalam kaitannya dengan penerapan eLearning di perusahaan tersebut, dalam kurun waktu 4 bulan sistem elearning sukses diimplementasikan . Tahapan selanjutnya adalah meningkatkan engagement dengan penyediaan konten-konten yang bermanfaat untuk pekerja di lingkungan perusahaan tersebut.

Ketiadaan Konten , LMS eLearning akan Minim Manfaat

Percakapan satu waktu saya dengan seorang pengelola sekolah di ibukota , sampai pada kasus sulitnya eLearning diterapkan di sekolah-sekolah khususnya di sana, umumnya di seluruh nusantara. Beliau menyampaikan sebab utamanya karena lembaga pendidikan kita tidak memiliki konten pembelajaran (standar). Padahal konten pembelajaran tersebut adalah hal yang fundamental karena merupakan inti dari pendidikan. 

Konten yang beliau maksudkan adalah satu bahan yang baku/standar mulai dari konsep dasar/filosofi, kaidah-kaidah atau aturan/teori, penerapannya di dunia nyata, faktor kesulitan-kesulitan yang dihadapi, serta alat ukur yang representatif untuk menentukan kesuksesan bahan ajar tersebut disampaikan kepada siswa. 

Hampir semua lembaga pendidikan di Indonesia tidak memiliki konten tersebut. Dampaknya adalah penyampaian materi kepada siswa tidak terstandarkan, sangat bergantung kepada penyampai dalam hal ini adalah guru di sekolah tersebut. Ini mengakibatkan spektrum capaian/penyerapan pembelajaran dari siswa menjadi beragam. 

Pada saat eLearning diterapkan, menggunakan media LMS (learning management system), maka pembelajaran menjadi semakin bias. Karena konten yang belum siap atau bahkan tidak ada sama sekali, ditunjang dengan ketidakhadiran fisik dari pengampu pembelajaran (guru), akibatnya adalah ketiadaan trust / kepercayaan terhadap moda pembelajaran ini. Secanggih LMS apapun yang dikembangkan , bila tidak ditunjang dengan ketersediaan konten ini, pastinya tidak memberikan dampak yang diharapkan. Untuk itu , bercermin dari hal tersebut, apakah kita semua sebagai pendidik , atau orang tua siswa, sudah punya konten yang bisa diberikan kepada anak didik kita? Kalau sudah ada , dan yakin ada , maka eLearning dapat mudah diterapkan. Tapi bila belum ada, buatkan terlebih dahulu konten ini baru merancangkan moda penyampaiannya.