Momen E-learning, Konsolidasi Dosen PDITT

image

Pertemuan hari ini adalah momen istimewa. Prof Armein , Pak Arif Syaichu , Pak Hadwi , Bu Mutiara, Bu Adhe , Bu Manik , serta segenap rengrengan E-learning ITB berkumpul mulai dari pagi hari hingga siang membahas mengenai konsolidasi penyiapan penyelenggaraan kuliah daring PDITT di ITB untuk semester ganjil tahun 2015/2016.

Banyak hal disampaikan oleh masing-masing partisipan mengenai kesiapan dan kondisi yang perlu untuk diperhatikan dalam penyelenggaraan program ini. Salah satunya adalah mengenai kualitas pembelajaran, durasi, kesiapan mahasiswa , kesiapan pengelolaan dan lainnya. Hal tersebut tentu saja menjadi bahasan menarik . Hasil konsolidasi kemudian dicatatkan untuk bahan pembahasan lanjutan di UPT E-learning ITB.

Kegiatan konsolidasi kemudian ditutup menjelang shalat Jum’at oleh Mas Anton dari E-learning ITB.

Link Terkait

  1. Foto Album Kegiatan Rapat Konsolidasi , klik link disini
  2. Situs PDITT ITB , klik link disini
Advertisements

Prof. Younghwan KIM , Capacity Development by Elearning

image

Pembahasan Prof Younghwan KIM yang paling menarik adalah kaitannya dengan ‘circular model for sustainable social & economic development’ . Beliau sampaikan bahwa untuk membuat program sustainable maka perlu dibangun public , private, partnerships, kemudian diarahkan pada membangun : (1) attitude & mentality (2) knowledge  (3) environment , didukung dengan teknologi (IT) dan penyiapan resource (pendidikan plus human resource development sebagai roda / wheel, maka akan terbangun suatu sustainable development . Semuanya ada pada koridor (1) Systematic change , (2) Dynamic communication and exchange . E-learning perlu dipandang bukan hanya dari teknologi enabler . Tetap sebagai teknologi transformatif . sebagai community involvement , participation, and satisfaction maka program e-learning dapat berjalan dengan baik .

Access Center , salah satu Fasilitas untuk Penerapan E-learning

image

Pada saat lembaga menerapkan elearning , perlu dipikirkan juga menyediakan sarana aksesnya. Dengan prinsip bring your own devices (BYOD) setiap peserta akan membawa perangkatnya sendiri . Namun tanggung jawab institusi tetap ada dalam hal mempersiapkan sarana akses salah satunya fasilitas komputer. Selain itu akses , sarana ini juga bisa digunakan untuk pusat asesmen (assessment center) .

Pada saat kunjungan pagi ini , kami berkesempatan untuk hadiri di salah satu sarana akses Universitas Airlangga Surabaya. Lokasinya di Kampus C gedung LP3UA . Sarana tersebut dilengkapi dengan hardware dan software yang mumpuni untuk dapat digunakan sebagai access center e-learning di Airlangga.

IE-Tab for Chrome, Tool canggih membuka web IE-based di Chrome

Mengakses web dengan chrome untuk situs yang dibuat dengan teknologi microsoft seringkali tidak bisa menampilkan beberapa komponen/item yang ada di sana. Pengguna chrome akhirnya pindah sementara ke browser IE semata-mata krn harus mengunjungi situs tersebut. 

Pada saat kami dahulu membuat konten eLearning , authoring tool yang kami gunakan adalah Microsoft Producer . Konten yang dihasilkan hanya dapat dibuka pada browser IE . itu pun browser IE yang digunakan tidak boleh lebih dari IE 8. 

Konten yang sama kemudian saat ini harus di-reproduce untuk pemutakhiran konten. Untuk membukanya membutuhkan browser IE. Cara yang dilakukan adalah menggunakan ekstensi chrome IE-Tab. 

Instalasi

Untuk instalasi IE Tab ini , cukup kunjungi chrome webstore kemudian search kata kunci IE tab . Atau dapat langsung mengakses ke url ekstension IE-Tab . Install ekstension tersebut

Penggunaan

Menggunakan tool ini cukup mudah , cukup ketik url website yang ingin dikunjungi , kemudian pada bagian kanan atas ada tombol IE-tab . Klik tombol tersebut maka akan tampil website dengan fungsi-fungsi Internet explorer (IE). 

Anda pun tidak perlu berpindah dari browser chrome ke IE untuk membuka website tersebut. Cukup mudah , bukan?

eLearning sebagai Wujud Pemberdayaan ICT (information-communication-technology)

Berkaitan dengan ICT ,  ada tiga kata yang menyusunnya yaitu : information-communication-technology. Secara bebas , ketiganya dapat di artikan sebagai berikut. Information merupakan gambaran sesuatu yang bisa membuat menjadi terang benderang. Tadinya mau saya katakan pengetahuan. Tapi teringat bahwa informasi merupakan kumpulan data yang tersirat ataupun tersurat , sedangkan pengetahuan merupakan kumpulan informasi. Communication merupakan interaksi antara orang dengan orang, atau orang dengan kelompok orang. Technology adalah alat atau perangkat yang digunakan. Gabungan ketiga kata di atas membuat ICT bisa diartikan sebagai teknologi digunakan untuk mengkomunikasikan informasi. 

Penerapan ICT ini memerlukan perancangan dampak / outcome yang diharapkan. Tanpa perancangan dampak / outcome akan membuat penerapan teknologi ini menjadi pemborosan dan pembiayaan bagi personal atau secara institusional. Dengan menyusun poin-poin dampak atau outcome maka pemanfaatan ICT dapat mentransformasikan personal atau institusional menjadi bentuk baru yang lebih baik, eskalasi dan akselerasi lebih cepat, cakupan skala yang lebih besar, serta pembiayaan yang efektif . Memikirkan dampak pemanfaatan ICT ini perlu dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Dengan menetapkan kriteria kinerja teknologi yang didefinisikan maka dapat dimonitor pemanfaatan teknologi, juga dapat dibuat rancangan pemberdayaannya untuk mendukung fungsi-fungsi yang ada baik personal maupun institusional. 

Teknologi hanya semata menjadi media / wadah. Dengan penggunaan yang tepat, teknologi dapat mendukung tercapainya visi dan misi baik individu maupun institusi dalam format sebagai tool transformasi, tool enabler, dan tool supporting . Level atau tingkatan pemanfaatan tersebut ditentukan dari perancangan tadi . Termasuk diantaranya adalah pemberdayaan eLearning sebagai wujud pemanfaatan teknologi dalam mentransformasi, meng-enable-kan, atau men-support fungsi-fungsi pendidikan dan pembelajaran. 

Perancangan yang baik haruslah memperhatikan kondisi eksisting, kondisi hasil(output dan outcome), serta hasil-hasil/kriteria antara yang diinginkan. Pada saat dilakukan evaluasi dan  muncul gap terhadap kriteria tersebut, maka bisa dilakukan iterasi atau pengulangan berupa re-design yang bisa meminimalkan gap tersebut. 

Mudah-mudahan kita adalah insan yang selalu merencanakan dan merancangkan dampak dari penggunaan teknologi yang sekarang kita manfaatkan untuk mentransformasikan diri kita atau institusi kita menjadi bentuk yang sesuai dengan pengharapan .

Membuat Password LMS Moodle Lebih Fleksibel

Salah satu persoalan yang cukup sering iditemui oleh admin eLearning dengan LMS Moodle adalah password. Format password yang panjang , minimal 8 karakter, plus numerik, plus alfanumerik, membuat user harus berpikir panjang untuk bisa membuat password valid. Dan karena panjangnya password serta formatnya ini, seringnya user jadi lupa dengan password yang pernah digunakannya. Akibatnya admin yang harus reset itu password supaya user dapat memakai akunnya dengan baik. 

Moodle menggunakan format password yang secara default seperti di atas adanya. Password ini tersimpan pada tabel mdl_user . Tabel khusus yang digunakan moodle untuk menyimpan data user . Untuk mengubah format password dari tabel ini adalah suatu hal yang sulit . 

Ada cara yang bisa admin lakukan untuk solusi persoalan di atas. Cara itu adalah menggunakan autentikasi database eksternal . Dengan autentikasi tipe ini , maka user yang terdaftar pada tabel user pada database yang dipilih akan bisa login dan terautentikasi di LMS Moodle . Kolom atau field yang wajib ada adalah id, username, password, namadepan, namabelakang, dan email. Data lainnya bisa ditambah secara bebas dengan menambahkan kolom-kolom lain. 

Pastinya password pun bisa kita set formatnya tanpa perlu mengikuti format default LMS Moodle. Contohnya , kami menggunakan password ‘123456’ untuk user bisa mengakses ke eLearning yang digunakan.

Membuat Integrasi Software LMS untuk SSO dan Authentication dengan Konsep Throw & Catch Session via URI

Finally , setelah setahun ini bekerja dengan throw dan catch session untuk autentikasi dan single sign on . Pagi ini kemudian menemukan titik terang untuk mengintegrasikan software LMS dengan aplikasi lain. 

Saat LMS diimplementasikan , user umumnya sudah memiliki sistem yang lebih awal . E-learning merupakan sistem yang diterapkan kemudian untuk optimalisasi fungsi-fungsi pembelajaran yang ada diinstitusi. Dampaknya ke penerapannya , yaitu sistem ini biasanya selalu ingin terintegrasi dengan sistem sebelumnya. 

Karena harus integrasi , maka LMS eLearning sebagai sistem yang digunakan harus mendukung sistem autentikasi dari mekanisme autentikasi yang digunakan sistem sebelumnya. Moodle dalam hal ini memiliki beragam plugin yang bisa dipakai untuk multi autentikasi. Mulai dari self registration, manual registration, db_auth, ldap_auth, central autenticaction (CAS), pluggable authentication modul (PAM), net_auth, dan lainnya. Dengan plugin ini user yang sudah terdaftar pada mekanisme autentikasi ini dapat mengakses ke LMS Moodle. 

Tetapi , user yang sudah login pada sistem tadi tetap harus meng-input username dan password untuk bisa login di LMS Moodle. Sementera requirement dari user adalah , kalau sudah login di sistem maka ia dapat browsing ke sistem lainnya tanpa perlu login kembali . 

Inilah yang kemudian tim icomlabs kembangkan. Metodologi untuk bisa sharing session antara aplikasi yang satu dengan aplikasi lainnya, yaitu LMS Moodle serta sistem enterprise. Karena format session antar aplikasi berbeda-beda , ada aplikasi yang meng-enkripsi sessionnya dan ada yang tidak, maka formula throw & catch session menjadi pilihan kami . 

Pada saat login, user akan me-register session di aplikasi. Pada modul yang kami buat versi awal , session ini kemudian dilempar ke form login moodle. Dan versi ini berhasil untuk mengantarkan session dari aplikasi tersebut ke LMS Moodle. Tapi bila user jeli, session username dan session password itu terjebak di form yang tersembunyi. Dan cukup beresiko , karena user setelahnya masih akan bisa login ketika user lupa logout. Nah pada versi yang sekarang, session kemudian dilemparkan (throw) via URI untuk kemudian diambil (catch) dari sistem autentikasi Moodle. Dan cara ini cukup berhasil dan pastinya cukup aman.

Sistem ini segera akan diterapkan untuk mendukung integrasi aplikasi blendedlearning di kampus ITB.