Empat Faktor Budaya Kerja yang Dibangun oleh Linkedin, Facebook, dan Google

Membaca sebuah artikel mengenai lingkungan kerja di Silicon Valley khususnya untuk perusahaan pengelola layanan social media internet terbesar yaitu Linkedin, Facebook, dan Google; ada 4 faktor utama budaya kerja yang dibangun di sana untuk para pegawai atau stafnya.

Merefleksikan keempat hal tersebut, kemudian menjadikannya sebagai perangkat budaya kerja yang perlu dibangun di perusahaan serta menyandingkannya dengan e-learning akan diperoleh suatu proses yang dapat menunjang perusahaan untuk bisa sustain, dan terus berkembang menjadi institusi yang mampu memberikan kontribusi dan nilai kepada masyarakat.

Secara ringkas faktor-faktor budaya kerja untuk membangun perusahaan sekelas linkedin, facebook, dan google :

1. Mereka Menghargai Inovasi

2. Mereka Memotivasi Kegagalan

3. Mereka Membuat Bekerja ‘fun’

4. Mereka Mempercayai Pegawai

Dengan karya-karya dan produk linkedin, facebook, dan google maka bisa dibayangkan pegawai-pegawai yang mereka miliki kualitasnya setinggi apa. Demikian pula budaya kerja bagaimana yang bisa mendukung sumber daya manusia tersebut bisa menghasilkan produk yang luar biasa. Sedikit saya paparkan di sini mengenai 4 hal yang menjadi budaya kerja di perusahaan tersebut,

1. Menghargai Inovasi

Semua perusahaan yang saya temui secara langsung atau tidak langsung menyatakan bahwa inovasi sangat penting. Tetapi banyak diantaranya yang bingung dengan proses untuk menciptakan, menelusuri, serta menindaklanjuti inovasi tersebut menjadi produk yang kemudian ‘valuable’. Perusahaan sekelas linkedin, google, dan facebook, di silicon valley ini bukan hanya sukses dalam menghargai inovasi tetap sudah sampai pada tingkatan menjadwalkan secara khusus SDM-nya untuk berinovasi.

Kuncinya adalah ada pada mengumpulkan pegawai, brainstorming ide-ide dan solusi baru, semuanya menyangkut cara atau pendekatan baru, proses kerja yang lebih baik, serta produk yang bisa menjadi bisnis baru. Filosofinya adalah nothing is off-limits.

Event tersebut dibuat menjadi populer dikalangan internal, dan semuanya terlibat. Tidak hanya bagian IT saja.

2. Memotivasi Kegagalan

Satu yang membuat inovasi dalam pekerjaan adalah menghilangkan rasa takut gagal. Tim campos, facebook CIO mengatakan : One of the things that is really powerful in an organization—what innovation effectly is—is a license to fail. When you’re willing to tolerate failure, people are willing to do things differently. If you’re not willing to tolerate failure, you have to do things in the tried-and-true way, which is not innovative.”  kemudian mari kita pikirkan apakah di perusahaan kita memiliki toleransi yang cukup luas terhadap kegagalan? Apakah semua pegawai dimotivasi untuk berpikir out of the box dan mencoba hal baru? ataukah sebaliknya?

3. Membuat Bekerja ‘fun’

Budaya kerja ketiga yang membuat perusahaan di silicon valey ini bisa terus berkembang adalah membuat bekerja menjadi sesuatu yang menyenangkan, menggairahkan. Kristin Burn menulis bahwa unsur ‘fun’ dalam bekerja akan menjadi daya luar biasa untuk mencapai produktivitas, kreativitas, kesenangan, serta akan meningkatkan retensi pegawai. Kristin burn : ‘fun’ in work environment can boost employee productivity, creativity and happiness, which leads to a longer retention of quality employees.

Kebijakan membuat bekerja menyenangkan ini perlu diwujudkan dengan membuat lingkungan yang mendukung hal tersebut terjadi.

4. Mempercayai Pegawai

Terakhir adalah kepercayaan penuh terhadap pegawainya. Hal tersebut bisa ditunjukkan dengan perusahaan menyediakan segenap kebutuhan bekerja yang lengkap. Facebook memiliki filosofi : Trust that because employees are happy at work, they will take only what they need. One way they keep honesty in check is by denoting. Salah yang barangkali bisa membangun kepercayaan kepada pegawai ini adalah dengan memberikan gambaran dampak pemanfaatan bahan-bahan yang digunakan terhadap biaya serta terhadap kesejahteraan. 

Untuk membangun empat budaya kerja di atas, langkah pertamanya adalah dengan menetapkan budaya kerja perusahaan secara utuh dan menyeluruh. Kemudian menyiapkan media untuk mensosialisasikannya kepada segenap pegawai. Media tersebut salah satunya bisa diwujudkan dengan mensetup suatu web pembelajaran dengan konten mengenai budaya kerja perusahaan. web tersebut selanjutnya disampaikan kepada segenap pegawai, serta untuk mengukur ketersampaian materi bisa dibuat evaluasi ringkas memanfaatkan fitur pada web pembelajaran tersebut.

 

(disadur secara bebas dari tulisan Kristin Burnham di CIO online)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s