Lima (5) Jebakan Besar saat Implementasi e-learning

Pengantar

Bagi segenap penggiat pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK), memahami jebakan atau pitfall yang dihadapi membuat kita semakin siap untuk terus berkarya meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran di negeri kita ini. Beberapa jebakan yang kemudian menjadi hambatan dalam implementasi e-learning adalah

  1. Percaya bahwa e-learning adalah masif, besar-besaran
  2. Percaya bahwa e-learning adalah misterius, kompleks
  3. Menempatkan teknologi didepan pedagogi
  4. Meremehkan kemampuan guru dan siswa
  5. Meninggalkan fun dari pendidikan
  6. Membuat kesalahan yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda

Pitfall#1 : Percaya bahwa e-learning adalah masif, besar-besaran

Benar bahwa teknologi adalah alat multiplier/pembuatjadi ganda. Teknologi memungkinkan perluasan cakupan, peningkatan jumlah peserta, bahan ajar, kegiatan pembelajaran, link-link. Tetapi pendidikan adalah proses satu ke satu (one to one proses). Belajar bukanlah akumulasi tetapi asimilasi. Pembelajaran menitikberatkan pada penyerapan pengetahuan bukan pada pengumpulan atau jumlah yang banyak.

Pitfall#2 : Percaya bahwa e-learning adalah Misterius dan Komplek

Tentu saja, tidak ada yang misterius atau komplek untuk menghubungkan orang yang mau belajar dan seseorang yang mau mengajar. Berikan kepada keduanya teknologinya, maka akan diperoleh ‘magic’. Teknologi dan informasi adalah alat yang dapat digunakan untuk menghubungkan keduanya dalam lingkungan belajar yang interaktif, kapanpun, dimanapun proses belajar itu berjalan.

Kemudian ada mitos yang muncul bahwa guru tradisional yang baik belum tentu bisa menjadi guru virtual yang baik pula. Tentu saja mitos ini keliru! Seorang guru yang baik, akan selalu menjadi baik dengan alat apapun yang dipegangnya untuk mengajar. Kecuali kalau pemiliki mitos ini berpandangan bahwa guru yang baik adalah aktor yang baik.

Gaung bahwa e-learning adalah misterius dan komplek hanyalah akal-akalan untuk membentuk group elite dalam sekolah untuk pendidikan virtual. Berarti juga merupakan akal-akalan untuk memindahkan perwakilan dan birokrasi ke panggung yang baru dan saatnya mengucapkan selamat datang di new & improved virtual inferno politicis and intrigue.

Pitfall#3 : Menempatkan Teknologi di depan Pedagogi

Urutan teknologi yang benar adalah : [Siswa <– Guru <– Bahan Ajar <– Teknologi]

Teknologi merupakan alat membantu guru untuk menyiapkan dan membuat bahan ajar yang dapat dibagikan kepada siswanya. Siswa kemudian belajar dengan bahan ajar tersebut. Siswa juga berinteraksi dengan guru untuk meningkatkan pemahamannya. Teknologi dalam hal ini adalah jembatan yang memungkinkan terjadinya interaksi antara guru dan murid.

Urutan yang seringkali muncul adalah : [Siswa <– Bahan Ajar <– Teknologi <– Guru]

Guru menjadi sub-ordinate dari teknologi yang mendikte guru bagaimana cara menyampaikan materi kepada siswanya. Tentu saja hal tersebut adalah kekeliruan besar. Guru adalah fasilitator belajar yang harus dapat mendefinisikan metode instruksi, memilih bahan, serta membangun interaksi, untuk menyampaikan pengetahuannya kepada murid-muridnya. Kalau melihat jauhnya jarak guru dan siswa ini, sesuatu yang pantas bila disebut distance education.

Pitfall#4 : Meremehkan Guru dan Murid

Institusi sekolah yang mengembangkan lingkungan virtual untuk pendidikan di institusinya seharusnya mengembangkannya menjadi open sistem. Maksudnya adalah sistem yang dibangun harus terbuka untuk menerima masukan, saran, kritik, pengujian dan eksperimen, serta inovasi baru dalam pembelajaran. Jangan sampai sistem pendidikan virtual ini menjadi sistem yang tertutup. Tertutup dari kritik, tertutup dari eksperimen, tertutup juga dari inovasi-inovasi baru.

Standarisasi dan modularisasi yang sekarang ini menjadi dogma jangan sampai menjadi alat pembatas guru dan murid untuk melakukan inovasi dalam pembelajarannya. Guru perlu didorong untuk terus bergerak dan berpindah bahkan di luar jalur yang dibatasi sebelumnya untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Sama halnya dengan siswa yang juga perlu selalu dimotivasi untuk mengeksplorasi proses belajar yang dijalaninya. Sekolah tidak boleh dengan alasan standarisasi dan modularisasi melakukan pembatasan-pembatasan. Dalam hal ini, standarisasi diperlukan untuk membuat garis batas bawah kualitas yang ditetapkan institusi.

Modul pembelajaran bukanlah kelas atau kursus. Siswa mengikuti kelas bukan mendapatkan modul pembelajaran. Siswa tidak hanya menerima modul-modul pembelajaran yang sudah dirancang karena Seringkali modul adalah produk dari designer-nya. Sedangkan kursus adalah event tunggal, yang tidak terprediksi, yang dikelola oleh pendidik. Modul hanya alat bantu yang pre-determined, sedangkan kursus adalah satu kesatuan kontingen.

Pitfall#5 : Meninggalkan ‘fun’ dari Pendidikan

Muncul paradigma di beberapa institusi sekolah, bahwa pendidikan virtual sinonim dengan stress. Pendidikan virtual adalah pengendalian, supervisi, pengukuran, indikator-indikator, dan laporan-laporan yang menggantikan kebebasan, fleksibilitas yang asalnya adalah janji dari pendidikan virtual. Proses pendidikan berubah menjadi proses industrial.

Spontan, unpredictable, unscripted merupakan ciri pendidikan yang seharusnya. Hal tersebut mendapatkan banyak ruang dalam pendidikan virtual. Guru dan murid, cukup mengambil resiko cukup besar dengan memanfaatkan fitur-fitur yang disediakan. Sehingga proses pembelajaran bisa lebih ‘hidup’ dan ‘menyenangkan’.

Untuk melakukan itu, semua kelas dalam pendidikan virtual tidak dapat di strukturisasi secara kaku, bahwa semuanya harus sama. Keseragaman, homogenitas, keduanya tidak bisa jadi bagian proses merumuskan. Doing, Thinking, Watching, Analyzing, Proposing, Building, merupakan bahan ramuan yang tidak dapat dibuat secara sama untuk semua kelas yang dilaksanakan.

Hal yang paling standar di sini hanyalah kehendak murni dari guru dan murid untuk bisa belajar – mengajar, berinteraksi, dan mendapatkan ‘fun’ dari pembelajaran yang dilaksanakan.

Pitfall#6 : Tetap melakukan kesalahan yang sama dengan mengharapkan hasil yang berbeda

Meskipun beberapa kali percobaan pengembangan dilakukan, tetap saja kesalahan itu berulang dengan muncul pengharapan supaya hasilnya berbeda.

Simpulan

E-learning adalah learning with ‘e’. Tanpa ‘learning’ maka tidak akan diperoleh ‘e-learning’. Proses pembelajaran yang didukung dengan teknologi seharusnya membuat siswa dan guru lebih mudah untuk menjalankan kegiatan belajar-mengajar dan bukan sebaliknya.

Semoga kita semua para penggiat e-learning semakin bisa untuk merancangkan e-learning sehingga selaras dengan institusi dengan tetap mengedepankan unsur pokok pembelajarannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s