Secondlife dan Tren Pembelajaran Ke depan

Saya akan berbagai hasil terawang saya mengenai kemampuan teknologi informasi ke depan terutama bagian yang berkaitan dengan dunia transfer knowledge. Seperti halnya dengan trilogy film Matrix yang sebelumnya cukup menggambarkan realita dunia IT saat ini, manusia memiliki dua kehidupan yang bisa dijalaninya. Kehidupan pertama adalah kehidupan di dunia nyata, kehidupan yang kedua adalah kehidupannya di dunia maya.

Di kehidupan nyata, manusia diberi identitas berupa nama, alamat, dan lainnya. Antar manusia kemudian berkomunikasi dan berinteraksi satu dengan lain sehingga terjadi proses berbagi informasi dan pengetahuan. Di dunia maya, manusia memiliki avatar berupa user-id, dan juga dapat berkomunikasi dan berinteraksi secara virtual.

Dua kehidupan yang dijalani, dijembatani oleh satu interface berupa perangkat komputer yang terkoneksi dengan internet. Dalam film Matrix, interface ditunjukkan dengan port yang dihubungkan di bagian tulang belakang. Keduanya menjadi jalur masuk bagi seseorang untuk menyeberang dari dunia riil ke dunia maya. Ataupun sebaliknya.

Representasi dunia maya yang mirip dengan dunia nyata ditunjukkan dengan website yang disebut dengan secondlife. Masing-masing orang, bisa meng-create akun di secondlife, kemudian menciptakan avatar-nya sendiri lengkap dengan identitas yang ingin direpresentasikannya. Avatar tersebut kemudian dapat berinteraksi di dunia secondlife termasuk ikut kelas, belajar, membuat komunitas, dan lain sebagainya termasuk bertransaksi dengan menggunakan mata uang virtual tentunya.

Dari pengalaman yang saya alami saat ini, berhubungan juga dengan pengembangan pembelajaran yang saat ini menjadi fokus saya, muncul pertanyaan apakah mungkin suatu saat ini pembelajaran dilakukan dalam dunia virtual. Secara sederhana bentuk pembelajaran yang muncul adalah,

– Siswa dengan perangkatnya, menggunakan akses hotspot/wifi kemudian login untuk masuk ke sekolah virtualnya dengan menggunakan avatar yang merepresentasikan dirinya.

– Setelah login, kemudian dia berjalan dan masuk ke kelas virtualnya. Belajar di dunia virtual tersebut, mencari semua informasi dan pengetahuan yang dikehendakinya, mengerjakan tugas dan kuis yang ada di sana. Setelah waktu pembelajarannya selesai, dia kemudian kembali ke dunia nyatanya dengan memutus koneksi dan mematikan komputernya.

– Hal yang sama kemudian dilakukan esok harinya, melanjutkan akses ke sekolah virtual tersebut, serta memulai pembelajaran dari waktu terakhir ia akses dengan melihat pada bookmark list yang ada di sana. Prosesnya sama persis dengan yang dilakukan di hari sebelumnya.

– Keunikan sekolah virtual seperti yang ada di secondlife adalah masing-masing siswa dapat berkelana ke sejumlah tempat, berguru kepada orang-orang yang memiliki kompetensi di bidangnya, lintas geografis, lintas waktu, sehingga terpuaskan kebutuhan pengetahuan yang ingin dikuasainya.

Tentu saja, konsep di atas memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi. Tetapi, konsep tersebut bukanlah konsep yang tidak mungkin dijalankan. Melihat perkembangannya saat ini, teknologi cenderung konvergen ke arah integrasi antara kehidupan nyata dengan kehidupan maya.

Sadar atau tidak sadar, pada saat kita create akun, kemudian login di social media yang kita miliki, berkomunikasi dan berinteraksi di sana, maka kita sudah menyiapkan avatar yang kita terikat dengan avatar tersebut. Dan Semakin banyak orang yang memiliki avatar, maka semakin jelas, bahwa integrasi dunia nyata dan dunia maya adalah dekat adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s