Faktor-faktor Penting Pengembangan Pembelajaran di ITB

Saya tuliskan ringkasan hasil diskusi mengenai pengembangan pembelajaran di lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung, bersama dengan Lembaga Pengembangan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat (LP4).  Diskusi yang berlangsung pada hari Rabu 25 Agustus 2010 mulai pukul 16 s.d 18 di lt 4 gedung CCAR ITB tersebut membahas banyak hal yang berhubungan dengan pengembangan pembelajaran. Sebagai peserta yang paling junior, saya berupaya keras untuk mendengarkan serta menghayati bahasan-bahasan menarik seputar pendidikan di ITB.

Komisi Pembelajaran

Untuk pengembangan pembelajaran di bentuk komisi pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan antara lain, training dosen baru, buletin pembelajaran yang terbit secara rutin dan bertujuan untuk mengingatkan bahwa pengajaran tetap menjadi core business di institusi pendidikan serta tetap menjadi fokus perhatian walaupun institusi tersebut diarahkan pada research based university. Komisi pembelajaran diamanahkan program WCU dengan program portofolio, buku ajar, hibah pengajaran (blendedlearning), serta koloqium pembelajaran.

Student Centered Learning/Learner Centered Education

Student Centered Learning (juga disebut pembelajaran berpusat pada siswa) adalah sebuah pendekatan pendidikan yang berfokus pada kebutuhan siswa, bukan orang lain yang terlibat dalam proses pendidikan, seperti guru dan administrator. Pendekatan ini memiliki banyak implikasi untuk desain kurikulum, isi kursus, dan interaktivitas kursus. (wikipedia)

Topik tentang ini disampaikan Pa Ichsan, dan bermuara pada perlunya dibuat diskusi di kalangan internal dosen membahas bagaiman learner centered education bisa diimplementasikan dalam perkuliahan. Istilah lainnya dari student centered learning ini adalah active learning. Salah satu prinsipnya di sini adalah memotivasi siswa untuk dapat belajar aktif. Salah satu bentuknya adalah dengan peer learning. Teman membantu teman lainnya untuk belajar. Karena salah satu tingkatan dalam piramid pembelajaran adalah memahamkan sesuatu dengan mengajarkannya pada orang lain.

Visi 20 Tahun kedepan

Hal yang perlu untuk menjadi acuan, seperti yang disampaikan Pa Ichsan adalah bahwa pendidikan yang dilakukan harus memikirkan kebutuhan masyarakat dua puluh tahun ke depan. Tentu saja hal ini, perlu untuk mempertimbangkan tren kekinian, memprediksi perubahan yang terjadi di masa depan, serta mempersiapkan pola pembelajaran yang mendukung penyiapan siswa menghadapi jaman 20 tahun yang akan datang.

Zero Drop Out

Topik bahasan lain yang muncul dalam diskusi adalah zero drop out. Universitas-universitas yang ternama, benar-benar memperhatikan zero drop out. Beragam program diluncurkan untuk meraihnya. Advokasi yang dilakukan bukan pada saat siswa terancam D.O tetapi lebih diarahkan pada pencegahan D.O. salah satu bentuknya adalah dengan menyediakan treatment khusus/clinic untuk masing-masing kuliah. Sebagaimana disampaikan Pa Kadarsah, clinic dibentuk pada masa kuliah dengan memberikan metode khusus bagi siswa yang secara faktual mengalami kesulitan untuk menguasai pelajaran. Prinsip dari clinic ini adalah fairness dan education for all. Semua siswa diberikan kesempatan untuk sama-sama lulus dengan memperhatikan keunikan masing-masing. Prinsip education for all adalah bahwa semua siswa berhak untuk lulus dan memperoleh nilai tertinggi.

Tacit & Explicit Learning Content

Ada pelajaran yang siswa baca kemudian siswa dapat langsung paham. Ada juga pelajaran yang siswa baca, kemudian diberikan contoh, baru siswa dapat paham. Pelajaran yang dapat dibaca siswa dan bisa langsung paham disebut dengan explicit knowledge. Sebaliknya pelajara yang perlu diberi contoh dulu untuk bisa dipahamkan siswa disebut dengan tacit knowledge. Masing-masing pengampu kuliah perlu untuk memahami apakah materi ajarnya itu adalah tacit atau explicit. Sehingga pada saat perancangan dan penyampaiannya dapat menggunakan metodologi yang tepat.

Peranan Homework

Pa Hermawan menyampaikan perlunya untuk memberikan homework kepada siswa untuk membantu siswa memahami materi yang dipelajarinya setiap minggu. Homework tersebut menjadi bagian dari penilaian secara keseluruhan terhadap penyerapan materi oleh siswa. Pengerjaan homework boleh bekerja sama, tapi tidak boleh asal menyontek. Homework kemudian diperiksa oleh masing-masing dosen serta diberikan feedback.

Berkaitan dengan homework ini, Pa Kadarsah menyampaikan perlunya homework untuk menambahkan skill kepada siswa. Beliau sampaikan bahwa learning experience itu dimulai dari knowledge –> skill –> attitude. Knowledge diperoleh dari materi yang disampaikan di kelas. Skill diperoleh dari pengerjaan homework. Sedangkan attitude lebih pada softskill masing-masing siswa yang juga bisa diperoleh dari interaksi siswa dengan dosen, siswa dengan siswa, dan siswa dengan lingkungannya. Dengan pola seperti ini, diharapkan terbentuknya lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi siswa untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya.

Peranan Wali Akademik

Masih berhubungan dengan clinic dan education for all, salah satu faktor penting bagi pembelajaran yang memperhatikan learner atau siswa adalah peranan wali akademik. Wali adalah orang tua siswa pada saat siswa ada di lingkungan institusi. Siswa adalah individu yang unik, barangkali ada banyak hal yg menjadi hambatan siswa saat belajar. Untuk itu, wali menjadi sosok yang dibutuhkan untuk mendengarkan, konseling, serta memberikan solusi-solusi terhadap kebutuhan siswa.

Penutup

Saya menutup tulisan ini dengan menyampaikan bahwa pengembangan pembelajaran di suatu institusi perlu memperhatikan visi/arahan, sdm, proses/sistem/fasilitas, organisasi, serta pembelajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s