Learning Content Management System untuk Knowledge Management System

 

Membuka kembali arsip presentasi yang saya sampaikan pada training-training mengenai Learning Content Management System (LCMS) tiba pada simpulan bahwa untuk korporasi kebutuhan LCMS secara fundamental adalah untuk Knowledge Management System (KMS).

Bila dirunut, corporate capital letaknya ada pada persona dan pengetahuannya. Saya mencoba mengingat kembali saat Thomas Alfa Edison dengan upayanya untuk menciptakan bola lampu listrik, sampai mengorbankan telinganya bahkan hampir tewas di atas gerbong kereta. Kemudian, pada saat bola lampu tersebut bisa diciptakannya, maka langkah yang dilakukan adalah mendaftarkannya ke direktorat patent. Setelah didaftarkan, ia tidak berhenti sampai itu, kemudian ia rintis perusahaan. Untuk merintis perusahaan tersebut, maka ia perlu untuk mengajak investor, merekrut pegawai, manajer, dan lainnya. Tentu saja, ia harus mengkomunikasikan bola lampu ciptaannya kepada semua orang tersebut melalui lisan, dan gambar. Sampai tercipta suatu pabrik produksi bola lampu. Selanjutnya, ia pun memarketingkan bola lampunya dengan meyakinkan semua orang pada saat itu untuk bisa memanfaatkan bola lampu ciptaannya. Suatu upaya yang saya yakin tidak mudah. Sampai kemudian perusahaannya itu berkembang dengan menggunakan label General Electric (GE), sampai dengan sekarang.

Saya membayangkan, bila Thomas Alfa Edison, tidak mentransfer pengetahuan yang dimilikinya, tentu kita tidak akan menikmati bola lampu listrik seperti sekarang. Dan apabila perusahaan GE tidak mampu untuk mengelola pengetahuan yang dimilikinya maka tentu, GE juga tidak dapat berkembang sampai puluhan tahun hingga saat ini.

Kebutuhan Dasar

Teringat pada saat training, satu pokok bahan diskusi menarik yang sempat terlontar adalah pemenuhan kebutuhan pokok. Bagi perusahaan modal utama yang dimiliki adalah knowledge mengenai produk/jasa yang dikembangkannya. Core knowledge ini haruslah unik serta secara turun-temurun dapat ditransfer ke generasi selanjutnya secara vertikal, atau ke divisi-divisi yang ada di dalam perusahaan secara horizontal. Pada saat kebutuhan pokok ini terpenuhi, yaitu terakumulasinya pengetahuan-pengetahuan yang ada, maka perusahaan akan memiliki pondasi yang kuat untuk mengembangkan dirinya serta bersaing.

Persaingan Global

Pada saat perusahaan memiliki fundamental knowledge, tidak berarti bahwa perusahaan itu kemudian cukup aman dalam menjalankan bisnis utamanya. Ada ancaman-ancaman yang muncul dari eksternal, pada saat produk tersebut dijual ke pasar. Perusahaan-perusahaan lain yang melihat adanya peluang pasar, akan berupaya untuk meniru produk-produk tersebut dengan menitikberatkan pada fungsi dan kegunaan produk. Hal ini ditunjang dengan semakin terbukanya dunia karena media teknologi informasi yang sekarang digunakan oleh sebagian besar manusia.

Selain itu, kelemahan dari perusahaan juga bisa muncul dari internal perusahaan. Ketiadaan sistem yang mengelola pengetahuan, menyebabkan produk bisa terancam karena personal pencipta knowledge sudah akan pensiun atau bisa juga dibajak oleh perusahaan lain dengan iming-iming fasilitas dan gaji yang besar. Untuk hal ini, terbukti banyak korporasi yang kemudian jatuh dan perlu upaya keras untuk bisa bangkit.

Peranan Teknologi Informasi

Knowledge management system dibangun dari unsur pengarsipan, pencarian arsip, serta kolaborasi antar persona yang ada di korporasi. Pengarsipan bisa diartikan dengan mengumpulkan data, file, foto, gambar, video yang mengandung unsur proses penciptaan, proses pengembangan, produksi/implementasi yang berjalan di perusahaan. Mengingat banyaknya arsip tentu saja diperlukan kakas pencarian. Dengan menggunakan kategori/kata kunci tertentu, arsip itu bisa ditemukan dan dipelajari. Kemudian dibuatkan taksonomi, sehingga kaitan antar satu arsip dan arsip lainnya bisa ditelusuri dengan baik.

Teknologi informasi dalam hal ini menyumbangkan peranan yang sangat besar. Teknologi informasi dapat menjadi media yang tepat untuk mengarsipkan, mengelompokkan, serta mengkategorisasi, serta menyediakan mesin pencari yang memudahkan seseorang mengakses ke dalam sistem. Dengan perangkat tersebut, pengaturan pengetahuan bisa berjalan lebih optimal.

Learning Management System dan KMS

Proses pembelajaran di korporasi haruslah diatur! Pengaturan ini harus merepresentasikan proses transfer atau pengkaderan knowledge yang ada di perusahaan. Alir proses pembelajaran perlu untuk digambarkan mulai dari input, proses, dan outputnya serta standar pengukuran kesuksesan pembelajaran yang dilakukan. Proses tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan Learning Management System (LMS). Di sisi repositori, Knowledge Management System hendaknya digunakan untuk menampung arsip-arsip proses, di sisi akses, Learning Management System digunakan untuk memantau proses pembelajaran yang dilakukan oleh masing-masing persona. Dengan implementasi keduanya, niscaya korporasi tersebut bisa terus berkembang serta bisa memberikan produk/layanan yang lebih baik serta memuaskan segenap stakeholdernya.

(Pasirjati, 14/03/2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s