E-learning dari sudut pandang siswa

Sepanjang saya memberikan materi mengenai online instructional system seringkali sudah pandang yang dicoba untuk disampaikan ke segenap pendengar adalah sudut pandang saya sebagai orang yang sehari-hari berkutat dengan teknologi informasi.

Beberapa hal mendasar yang sebenarnya ada dan menjadi asumsi pengguna e-learning sendiri berkaitan dengan beberapa hal yang saya sebutkan di bawah ini. Walaupun itu boleh jadi sebatas summary dari serangkaian proses mendengar yang saya lakukan sebagai ‘guardian’ sistem e-learning yang ada di kampus saya.

Beberapa pandangan tersebut antara lain bahwa e-learning merupakan perangkat yang:

  1. Intimidating tech
  2. Ongkos yang dikeluarkan lumayan cukup tinggi
  3. Mengisolasi diri
  4. Dibutukan self discipline & motivation (motivation, metacognition, and Collaboration)

Kalau saya perhatikan lebih jauh dari asumsi yang mendasari timbulnya kesan yang saya sebutkan di atas, memang beberapa diantaranya adalah masuk akal. Karena barangkali, adanya keterbatasan dari masing-masing personal terhadap teknologi yang sekarang itu ada di depan mata kita.

Dari poin pertama, e-learning mengintimadisi pengguna untuk memanfaatkan teknologi. Saya melihatnya dari sudut pandang bahwa penggunaan teknologi ini seringkali harus bermula dari enforcement. Adanya pemaksaan yang membuat orang menjadi terbiasa. Setelah e-learning dijalankan di kampus, ternyata mahasiswa mulai terbiasa bahkan ketagihan untuk selalu berkolaobrasi dan berkontribusi, walau cuma untuk bilang ‘hi’ pada temannya.

Kemudian dari ongkos yang dikeluarkan, menurut saya ongkos itu menjadi relatif apabila dihubungkan dengan impact baik tangible maupun intangible. Lihat saja sisi positifnya kemudian coba kalkulasikan. hasilnya saya rasa akan ‘fair’ antara ongkos yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.

Poin ketiga yaitu mengisolasi diri, dari sudut pandang saya, perangkat web 2.0 yang sekarang menjadi tren, semuanya mendukung supaya masing-masing orang selalu bermasyarakat. Supaya dapat saling kenal satu dengan yang lainnya. Lihat saja beberapa social web yang sekarang berkembang.

Terus membutuhkan self discipline dan self motivated.. saya pikir bagian ini diperlukan bukan saja pada saat mengikuti pembelajaran online. Pada saat pembelajaran tatap muka pun tetap diperlukan.

Sehingga pandangan-pandangan mengenai e-learning yang seringkali menumbuhkan asumsi negatif, sebenarnya bisa dikomunikasikan. Pemanfaatan e-learning harapannya dapat lebih dirasakan luas oleh segenap stakeholder pembelajaran.

One thought on “E-learning dari sudut pandang siswa

  1. hmm, menarik…
    kalo menurut Bayu PR skr ini adalah bagaimana menjadikan eLearning ini sbg “Life Style Learning” dikalangan siswa/pelajar, kalo udah pada level ini… pastinya ngga akan ada lagi perasaan “berat di ongkos”…he2..^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s