Post

10 Big Things Free IT Saturday Lesson (FSL) ComLabs

Dalam Uncategorized pada Januari 11, 2010 oleh ariefbb

 

Sudah hampir empat tahun, Free IT Saturday Lesson (FSL) mangkal di ComLabs USDI-ITB. Waktu yang cukup lama untuk sebuah program ‘free’ bisa berjalan mengingat lika-likunya yang cukup panjang serta berharga untuk dituliskan. Berawal dari sebuah ide untuk membangun masyarakat cerdas dalam bidang teknologi informais, FSL kemudian lahir dimotori oleh para mahasiswa yang tergabung dalam korps asisten ComLabs USDI-ITB. Konsep idealis ini kemudian lahir dalam bentuk mini-seminar, menampilkan narasumber yang memaparkan materi-materinya kemudian diiringi diskusi antar presenter dengan audiensnya dengan topik-topik yang beragam. Titik tolak FSL kemudian penulis rangkum menjadi 10 poin Penting FSL.

#1 : Dinamika Perkembangan Teknologi Informasi

Dari sudut pandang penulis, teknologi informasi terus berkembang menjadi satu alat yang memungkinkan orang-orang untuk bisa menyimpan data, membagikannya, serta membuat analisa mengenai data-data tersebut dalam format informasi yang visible. Perangkat tersebut mencakup infrastruktur network, perangkat, platform, dan software/aplikasi. Tahun 2000-an ketika penulis baru menyelesaikan kuliah sarjananya, perangkat yang digunakan masih terbatas pada computer dengan prosespr setara intel Pentium dengan RAM 64 MB, serta storage 40GB. Saat ini, penulis baru saja deploy server dengan prosesor dobel quad-core, RAM 32 00 MB serta storage 2000GB. Dalam kurun waktu hampir 10 tahun, dinamika IT demikan pesat. FSL merupakan wadah tepat untuk menjadi media untuk mensosialisasikan dinamika perkembangan tersebut dan impact-nya kepada khalayak.

#2 : Keep up to date

Perkembangan teknologi selalu berhubungan dengan SDM di belakang perkembangan tersebut. Untuk bisa menangkap maksud yang melatarbelakangi perkembangan teknologi tersebut, maka perlu diundang SDM-SDM dibalik layar perkembangan dan memberikannya kesempatan untuk bercerita mengenai pengalaman-pengalamannya dalam mengembangkan teknologi tersebut. Peran penting FSL dalam hal ini adalah mengundang dan menampilkan SDM-SDM tsb serta mengumpulkannya dengan segenap audiens yang bisa memperoleh manfaat dari kehadiran teknologi tersebut.

#3 : Berbagi Ilmu (Sharing Knowledge)

Setiap orang, merupakan pencipta pengetahuan baik yang bermanfaat untuk dirinya, ataupun pengetahuan yang bisa secara umum digunakan oleh khalayak. Peranpenting orang dalam hal tersebut adalah sebagai inisiator, inventor, ataupun operator dari teknologi hasil pengetahuan. Alangkah bermanfaatnya bila dengan media ini bisa terjadi semua orang dapat berkomunikasi sehingga proses berbagi ilmu bisa terjalin. Peran penting FSL adalah memfasilitasi terjadinya proses berbagi ilmu tersebut sehingga terjadi akselerasi perkembangan ilmu.

#4 : Komunitas adalah Perlu

Salah satu bentuk melestarikan ilmu adalah dengan menyediakan lingkungan/environment yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya ilmu tersebut. Salah satu bentuk lingkungan ini adalah adanya komunitas/social yang bisa membuat bibit ilmu ditebar, disemai, dipelihara, serta suatu saat nanti bisa panen ilmu. Tujuan FSL salah satunya adalah membina komunitas sehingga ilmu di bidang teknologi informasi ini bisa memiliki massa yang cukup untuk bisa terus berkembang serta suatu saat bisa dipanen dalam bentuk tersedianya teknologi-teknologi baru berupa penemuan-penemuan baru atau juga hasil perkawinan silang antar-teknologi.

#5 : Pengetahuan adalah Gratis, Usahanya Tidak!

Internet dewasa ini menyediakan informasi-informasi yang berlimpah serta gratis. Siapapun orangnya, darimanapun asalnya, semuanya dapat melihat dan mengakses ke informasi-informasi yang dimunculkan di internet. Semua informasi itu adalah gratis. Tidak ada satu tempat pun yang berani untuk melakukan ‘charging’ atas informasi-informasi yang disediakan di internet. Tetapi upaya untuk mendapatkan informasi tersebut tidak gratis. Alias seseorang harus mengeluarkan uangnya untuk beli netbook beserta modemnya, serta iuran bulanan untuk bisa akses internet. Hal ini perlu untuk menjadikan pertimbangan kontinuitas serta sustainabilitas kegiatan FSL. Saat ini usaha-usaha mengupayakan FSL tetap gratis terus dilakukan. Semoga usaha-usaha tersebut bisa sukses sehingga FSL bisa tetap berjalan dan menjadi media knowledge transfer yang berkualitas tetapi tetap open dan free untuk semua khalayak.

Post

Learning Management System, Bahan Materi Workshop

Dalam Uncategorized pada Desember 16, 2009 oleh ariefbb

 

Sebelum memasuki bahasan tentang Learning Management System (LMS), sedikitnya perlu untuk disampaikan mengenai latar belakang kebutuhan institusi terhadap sistem tersebut. Untuk kebutuhan pengelolaan pengetahuan (knowledge management), institusi memerlukan perangkat penyimpanan (repository) yang bisa digunakan untuk menyimpan data dan informasi penting mengenai portofolio institusi tersebut. Dengan data yang ada pada repository, maka bisa dilakukan upaya pengembangan serta penelusuran jejak institusi dari awal berdiri sampai dengan masa sekarang. Juga bisa dijadikan sebagai data untuk mengetahui kekayaan yang dimiliki oleh institusi tadi. Dengan mengenal kebutuhan terhadap repository, ini merupakan langkah awal untuk tahu sistem pengelola pembelajaran (Learning Management System, LMS).

Universitas sebagi satu institusi yang menopang tumbuhnya pengetahuan (knowledge), menggunakan sistem yang bisa digunakan untuk menjadi sarana yang membantu proses yang berjalan di institusi tersebut. Sistem ini bisa disebut sistem akademik, mengingat fungsinya yang banyak berkaitan dengan pengelolaan proses akademik, yaitu siswa, dosen, dan kegiatan belajar-mengajar.

Kaitannya dengan LMS, maka sistem ini merupakan perangkat yang menjadi jembatan antara repository pengetahuan dengan sistem akademik. Karena LMS ini adalah sistem yang menghubungkan bahan-bahan yang tersimpan di sistem repository dengan sistem akademik. Sehingga proses yang berjalan secara konvensional tatap-muka bisa ditunjang dengan lms-nya.

Knowledge Management (KM)

Bila diamati, dengan berjalannya usia sebuah institusi seharusnya bisa seiring dengan pertumbuhan portofolio karya segenap komponen yang menjadi bagian dari institusi tersebut. Tentu saja, produk-produk yang bernilai dapat selalu untuk dilihat dan diakses oleh berbagai tingkat generasi. Dan ini hanya bisa dilakukan apabila tersedia perangkat pengarsipan yang baik.

Knowledge Management (KM) merupakan proses yang kontinyu yang melibatkan tiga komponen utama yaitu people, proses, dan technology. Komponen pertama, people merupakan komponen primer. Peranannya adalah sebagai knowledge creator, developer, dan owner. Knowledge yang dimiliki perlu untuk di-share. Dengan sharing tsb, maka knowledge bisa berkembang bahkan bisa menjadi produk yang bernilai. Institusi dalam hal ini herus menyediakan sistem atau perangkat yang berisi proses berupa aturan/kebijakan, taksonomi, serta arsitektur yang memungkin sharing knowledge dapat berjalan dengan optimal. Teknologi kemudian digunakan untuk membuat proses tersebut lebih efektif dan efisien. Dengan komponen-komponen tersebut maka knowledge akan terus tumbuh dan berkembang seiring dengan pertambahan usia institusi.

E-learning dan Knowledge Management

Dengan repository knowledge yang sudah dikembangkan, maka sistem tersebut akan menjadi sarana penting untuk pembelajaran. Sistem repository knowledge adalah sumur dengan salurannya adalah sistem e-learning. Sehingga semua stakeholder bisa menjadi pengguna dan pemanfaat dari knowledge yang dimiliki oleh institusi. Disinilah proses transfer knowledge bisa berjalan.

Antara Website dan Situs Pengelola Pembelajaran

Dengan banyaknya sarana online yang tersedia, masing-masing personal bisa menjadi knowledge creator,developer, dan owner yang kemudian memanfaatkan sarana online tersebut sebagai media peralihan pengetahuan. Namun tentu hal tersebut menjadi kelemahan dari institusi. Mengingat institusi merupakan stakeholder yang paling berkepentingan dengan menginstitusikan knowledge yang ada pada masing-masing orang yang ada di dalamnya.

Sarana online yang saat ini tersedia adalah berbeda dengan situs pembelajaran dalam (1) tujuan, (2) feedback. Sebuah situs pembelajaran haruslah memiliki tujuan untuk bisa membuat pembaca/pengguna situsnya untuk menerima dan menyerap alih pengetahuan dari knowledge creator. untuk mengukurnya maka diperlukan media feedback berupa assessment yang diberikan secara sistematis.

Situs pembelajaran akan menjadi website bilamana tidak memiliki tujuan yang jelas serta ketiadaan feedback di sana.

Pembelajaran berbasis Web

Berkaitan dengan LMS, Sistem pembelajaran berbasis web dipicu dari perkembangan internet yang kemudian menciptakan peluang-peluang serta tantangan bagi segenap guru di semua tingkatan/level. Sistem ini sudah menjadi praktik standar pembelajaran di semua negara di Eropa dan Amerika. Komunitas akademik pun sudah mengadopsi sistem pembelajaran ini dan mengembangkannya dan menjadikannya sebagai metode instruksi yang feasibel untuk diterapkan untuk aktivitas pembelajaran.

LMS adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam hal gaya belajar, sikap, keyakinan, serta pendanaan, dan kemampuan teknis. Selain itu LMS harus mengakomodir kebutuhan interaksi siswa dengan konten/bahan ajar, siswa dengan instruktur, antar siswa, serta siswa dengan interface/browMser.

Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya LMS adalah untuk memanfaatkan IT sebagai satu bentuk media pembelajaran serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran yang dilakukan.

Modular Object Oriented Learning Environment (Moodle)

Moodle merupakan LMS yang memenuhi model standar component untuk merepresentasikan model pembelajaran yang terdiri beragam komponen yang mendukungnya. Modul tersebut terdiri dari pengolahan bahan ajar dengan pemanfaatan berangkat tool authoring, tool assembly, serta katalog. Output dari model komponen ini adalah learner profile yaitu karakteristik dari siswa yang turut berperan aktif dalam pembelajaran. Untuk mengetahui lebih lanjut fitur yang diperlukan pada sebuah LMS, maka bisa dilakukan perbandingan antara fitur Moodle dengan situs-situs e-learning yang disediakan dari berbagai vendor.

Sebagai penutup bahasan, Moodle saat ini menjadi satu bentuk LMS yang bisa dimanfaatkan oleh institusi untuk pengembangan pengelolaan pengetahuan dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan knowledge di institusi tersebut.

(Cengkareng, 15-12-2009)

Post

Open Source Software, Apakah Kita Pendekarnya?

Dalam Uncategorized pada Desember 7, 2009 oleh ariefbb

Saat diminta menjadi narasumber untuk pelatihan Free Open Source Software (FOSS) untuk suatu lembaga pemerintahan, saya sempat berpikir sekilas mengenai nasib gerakan OSS ini terutama di negara kita.

OSS adalah kemerdekaan bagi pengembang untuk mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi dirinya dan komunitasnya. Gerakannya murni dibangun dari kesadaran diri bahwa program yang dituliskannya pasti bisa bermanfaat bagi komunitas dan masyarakat umum. Semangatnya adalah untuk berbagi sesuatu yang terbaik untuk masyarakatnya, baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama komunitasnya, secara khusus untuk bidang teknologi informasi dan secara umum untuk segenap bidang yang ada di masyarakat.

Kemudian gerakan ini menyempit dari sudut pandang sebagian orang dengan menggembar-gemborkan pengunaan salah satu sistem operasi yang dikembangkannya sebagai bentuk pemberdayaan opensource software. Di satu sisi hal tersebut saya pandang sebagai sisi baik. Yaitu bentuk perhatian dari pemerintah terhadap gerakan komunitas pemberdayaan opensource software. Tapi di sisi lain, saya melihatnya sebagai bentuk pengerdilan gerakan.

Pemberdayaan open source software harus dilandaskan kepada penyadaran, yaitu aktivitas aktif untuk membuat semua orang sadar mengenai kebutuhan penggunaan OSS dalam kehidupannya sehari-hari. Dari landasan tersebut, kemudian dibangun library terpusat yang lengkap (minimal dalam bentuk informasi mengenai library yang ada), selanjutnya memahamkan semua komponen bahwa software ‘hanyalah’ tool atau alat yang bisa kita gunakan menjadi perkakas untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan (baik proprietary ataupun oss), kemudian ditindaklanjuti dengan memberikan pengajaran yang tepat mengenai pengembangan software khususnya di institusi pendidikan dengan mengedepankan pada tujuan bhw software tersebut bisa digunakan. Terakhir adalah mendukung pengembangan komunitas-komunitas untuk menjadi simpul pemberdayaan oss.

Mengembalikannya ke Universitas

Fokus ke pendidikan menengah & kejuruan menurut saya bukan merupakan langkah tepat pemberdayaan oss. Siswa Sekolah kejuruan, walau dengan segala kemampuan dan kompetensi yang dimilikinya tidak dapat mejadi sumbu pemberdayaan oss. Maka pemberdayaa oss ini harus dikembalikan kepada perguruan tinggi. Berbagai alasan yang bisa saya sebutkan mengenai hal ini, di antaranya adalah penggila oprekan adalah mahasiswa. Dan mahasiswalah yang bisa menggerakkan komunitas. Apabila kalangan mahasiswa ini muncul menjadi pendekar opensource, maka akan hiduplah pergerakan opensource di negeri ini.

Belajar dari Microsoft dan proprietary software vendor Lain

Kenapa harus menutup diri? Pendekar opensource pun harus memiliki mental keterbukaan untuk bisa mengadopsi dan belajar dari pengembang software yang sudah sukses sekelas Microsoft dan proprietary software vendor lain. Untuk bisa terus bertahan hidup, maka ekosistem software harus terus dijaga. Dan langkah terbaiknya adalah meniru langkah Bill Gates dalam mengembangkan Microsoft.

Peran Serta Pemerintah

Kalau program ini ingin sukses, pemerintah harus kembali ke posisi yang benar yaitu sebagai pemangku kebijakan serta  supervisor untuk menjamin kesuksesan keberjalanan programnya. Bagi pemerintah yang harus dilakukan adalah mengeluarkan kebijakan dan aturan yang mendukung pemanfaatan OSS, serta memonitor perkembangannya sehinga perkembangan gerakan OSS ini sesuai dengan rel yang menghantarkannya menuju tujuannya. Kalau perlu, sediakan insentif bagi perusahaan kecil, universitas, perorangan yang sukses mengembangkan, mengimplementasikan software di masing-masing instansinya.

Apabila semuan hal di atas berjalan, seyogyanyalah tiap tahun akan kita jumpai software dan sistem baru opensource yang diperkenalkan oleh anak bangsa ini. Dan sangat mungkin bukan? dengan ribuan program studi komputer dan sistem informasi yang ada di negeri ini…

(AB, Bandung 07 Desember 2009, Workshop Opensource Software di Pemerintahan)

Post

Cloud OS : Operating System Masa Depan!

Dalam Uncategorized pada Desember 4, 2009 oleh ariefbb

Seiring dengan rilisnya Ubuntu 9.10, Windows Se7en, MacOS Leopard, OpenSolaris, dan sebentar lagi Chrome OS, semuanya pasti akan berharap perbaikan fitur fungsional, performa, serta kecepatan dari masing-masing nyawa dari komputer, notebook, laptop, nettop yang jadi alat bantu kita.

Apa untungnya sih bagi kita? Sampai dengan saat ini, sudah berpuluh OS saya oprek ternyata semua OS tersebut konvergen. Sekarang, saya sudah tidak peduli dengan platform operating system apa yang ada di komputer, yang penting semua keperluan saya untuk mengerjakan tugas-tugas saya ada di sana. Bahkan lebih jauh lagi, untuk ke depan, saya sudah tidak akan peduli dengan aplikasi yang ada dalam OS tersebut. Saya hanya cukup memperhatikan apakah komputer saya punya browsernya atau tidak, dan apakah komputer saya terkoneksi dengan internet berkecepatan tinggi atau tidak.

Mengenal Cloud OS

Cloud computing muncul untuk memenuhi kebutuhan user terkait dengan infrastruktur, computer, platform, software. Barangkali, di sisi infrastructure, definisi cloud cukup jelas. Yaitu kita cukup bayar koneksi internet pada saat digunakan. Kita tidak perlu peduli dengan bagaimana vendor pasang kabel fiberoptik, atau menara BTS, dan juga kita tidak perlu punya BTS sendiri, atau pasang kabel sendiri. Yang penting kita punya modem, dan pada saat itu juga bisa konek ke internet. Istilah cloud-nya adalah Infrastructure as a service (IAAS). Demikian juga dengan computer as a service, seringkali kita tidak perlu untuk punya server supaya bisa buat website, cukup hosting saja.. gampang bukan? Istilah cloudnya adalah computer as a service (CAAS).

Cloud OS adalah istilah saya untuk mendefinisikan bahwa saat ini kita tidak perlu peduli dengan sistem operasi dan bayar lisensi. Cukup pake opensource OS sebagai platform dengan browser, dan kita bisa gunakan webOS salah satunya adalah icloud (icloud.com) serta ghostOS (g.ho.st). Cloud OS merupakan sistem operasi yang berjalan di atas platform browser dengan mengabaikan host atau parent OS-nya.

Sebagaimana icloud-OS yang saya Coba

Saya memulainya dengan mencari di internet cloudOS yang ada. Salahsatunya adalah icloud, satu lagi adalah ghostOS (g.ho.st). Keduanya bisa diakses dengan cara kita registrasi terlebih dahulu. Korbankanlah salah satu alamat email yang Anda miliki. Biasanya untuk setiap layanan free berdampak akan banyak email iklan yang masuk ke inbox kita. Setelah selesai registrasi, dan mengklik konfirmasi ke e-mail maka kita bisa login di form login yang tersedia.

icloud memiliki tampilan form login yang cantik. Hampir mirip dengan logon Windows XP. Bedanya adalah icloud berjalan di atas platform firefox browser atau IE.

Setelah login, tampilan pertama adalah bentuk desktop. Pada saat saya view full screen, tampilan icloud sudah serupa dengan desktop yang biasa saya gunakan lengkap dengan widget berupa jam, contact, calendar, serta shortcut icon yang mempercantik tampilan icloud tersebut. Kesan pertama sudah menggoda! Selanjutnya kita lihat dari sisi fitur dan fungsionalnya.

Standar fitur yang saya harapkan dari sebuah sistem operasi adalah : file manager, office, internet, messenger, multimedia.

Saya cek fitur file manager. Nama aplikasi di icloud adalah cloud drive (xios). Jendela yang muncul sangat dikenal karena menyerupai windows explorer. Kapasitas harddisk yang tersedia juga cukup lumayan (3GB). Cukup untuk menyimpan dokumen-dokumen penting yang dibuat dengan menggunakan icloud. Fitur file manager yang tersedia antara lain : buat folder, delete folder, rename. Lumayan juga fitur-fitur tersebut berjalan cukup baik.

Berikutnya adalah aplikasi office. Icloud memilik aplikasi office yang diberi nama Write. Fitur standar untuk membuat dokumen sudah tersedia di sana. Walaupun tidak cukup lengkap kalau dibandingkan dengan openOffice atau Microsoft Office. Tipe penyimpanannya pun hanya mendukung xml yang bisa dibuka di aplikasi openoffice atau Microsoft Office.

Fitur multimedia pada icloud, adalah Movie, dan iPlay. Keduanya dapat memainkan file-file audio dan video. Movie bisa memainkan format video flv yang sudah diupload di youtube. Sedangkan iPlay bisa memainfkan lagu-lagu dengan format mp3, wav.

Untuk berkomunikasi sudah tersedia aplikasi untuk e-mail dan juga messenger. E-mail yang digunakan bisa e-mail eksternal ataupun email bawaan dari icloud-nya sendiri. Keduanya bisa di-setting pada bagian mail. Sedangkan messenger juga sudah tersedia baik menggunakan IM internal ataupun menggunakan account yahoo, AIM, atau lainnya.

Selain itu, icloud juga sudah menyediakan galeri foto yang memiliki fitur-fitur untuk editing photo serta sharing photo dengan pengguna lain serta publik. Galeri photo tersebut ditampilkan di halaman aplikasi. Koneksi dengan flickr memungkinkan kita mencari foto-foto yang tersedia di layanan tersebut. Adapun fitur lainnya merupakan add-ons tambahan saja seperti calendar, jam, dan gadget lain.

Pemakan RAM!

Pada saat saya cek task manager yang ada di komputer host, ooops.. untuk menjalankan icloud dengan ghostOS bersamaan, memakan RAM sampai 2.15Gigs. ehemm.. barangkali memang demikian nasib menjadi virtual yaitu harus mengorbankan resource yang cukup besar.

Koneksi!

Sampai dengan saat ini, koneksi menggunakan 3G/HSDPA serta dedicated WAN yaitu internet ITB sudah cukup mumpuni untuk menggunakan cloud OS tersebut secara ‘nyaman’.

Barangkali user yang pesimis dengan WebOS, sebaiknya segera tobat mengingat cloudOS ini merupakan tren yang mau atau tidak mau akan menghampiri dan menjadi trensetter perkembangan perangkat teknologi informasi.. di masa yang ‘sebentar lagi’ datang. Baik itu dulu ringkasannya, mengenai ghostOS sendiri akan segera saya buatkan tulisannya setelah urusan teX/laTex selesai!

(BDG,4-12-09)

Post

E-Learning di Korporat, Keniscayaankah?

Dalam Uncategorized pada November 24, 2009 oleh ariefbb

E-Learning di Korporat, Sebuah Keniscayaankah?

Beberapa waktu ke belakang, saya dipercaya untuk menjadi pemateri untuk pengembangan e-learning di sebuah perusahaan. Mengapa e-learning perlu diimplementasikan di Korporat? Saya mencatatkan beberapa poin yang sering saya sampaikan di seminar/workshop.

Social Media

Teknologi internet yang berkembang pesat dewasa ini melahirkan aplikasi media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk sharing. Namun sering kita dengar bahwa banyak perusahaan yang mem-blok aplikasi-aplikasi tersebut dengan alas an tidak efektif dan tidak efisien serta mengganggu kinerja perusahaan.

Pertumbuhan Penggunaan Netbook & Mobile Devices

Mobilitas, merupakan istilah yang kerap terdengar akhir-akhir ini. Perangkat komputasi dan komunikasi mobile kemudian mengiringi dan menjadi solusi kebutuhan mobilitas dari insan-insan. Laptop dan netbook ukuran 10 inch menjadi perangkat yang banyak dipakai oleh orang-orang untuk membantu mengerjakan tugas-tugasnya.

High-Speed Internet

Di sebuah diskusi ringan, sempat terlontar ungkapan bahwa cable/wireline telecommunication akan digusur dengan wireless telecommunication. Pada kenyataannya saat ini, banyak orang yang menggunakan perangkat wireless telecommunication untuk menemaninya dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Teknologi 3G/HSDPA/UMTS saat ini sudah menjadi tren. Sebentar lagi Wimax dan 4G akan masuk ke negeri kita. Dengan perangkat tersebut tersedia jalur komunikasi dengan pita lebar untuk komunikasi kecepatan tinggi yang memungkinkan kita untuk upload dan download data dari internet.

Tren Pemanfaatan Teknologi untuk Kelangsungan Operasi di Korporat

OVI, kalau tidak dikaitkan dengan Nokia sebagai owner dan providernya pasti tidak akan terkenal. Namun Ovi sekarang menjadi bentuk layanan yang diminati oleh pengguna Nokia. Nokia Ovi dengan fiturnya pushmail, sharing file, kolaborasi, community menjadi penyerta dan pendamping penggunaan handphone nokia bagi penggunanya.

Untuk produsen hardware seperti Nokia, investasi yang dikeluarkan untuk membangun portal layanan nokia ovi pastilah besar. Namun dampaknya yang visible maupun invisible terutama untuk kelangsungan produk nokia pasti besar dan bahkan jauh sekali nilainya dibandungkan dengan besarnya investasi yang dikeluarkan. Salah satu bentuknya antara lain loyalitas pengguna nokia yang sampai dengan sekarang tetap besar.

Pembelajaran berbasis TIK di Korporat

Learning is process of becoming! Itu slogan Stephen Downes untuk mendefinisikan pembelajaran yang dilakukan oleh masing-masing individu.

Pembelajaran berbasis internet sekarang sudah diimplementasikan di universitas untuk menyelenggarakan distant learning. Narasumber atau pakar dari bidang-bidang ilmu, saat ini dengan mudah dapat memaparkan presentasinya dari tempatnya atau kantornya. Pesertanya di tempat lain dengan mudah bisa berdiskusi atau melakukan Tanya jawab. Proses transfer/diseminasi pengetahuan untuk sekarang bisa dilakukan dengan cara yang lebih mudah.

Sedangkan di korporasi, beberapa hal masih perlu untuk diupayakan. Karena melihat dari pengalaman diskusi dengan beberapa orang, e-learning dalam arti khusus belajar online dan menggunakan sumber daya internet di perusahaan khususnya di Indonesia masih suatu keniscayaan. Mengingat policy atau aturan yang ada di perusahaan masih belum mendukung budaya korporasi long-life learning.

Namun ada baiknya untuk membahas beberapa poin penting mengenai e-learning ini serta kaitannya dengan pembelajaran berbasis TIK di Korporat.

Hampir semua perusahaan memiliki core knowledge yang tentu saja unik. Dengan core knowledge tersebut perusahaan kemudian memberikan layanan berupa produk atau jasa yang ditawarkan. Selain produk dan jasa tersebut, perusahaan juga menjalankan proses yang semuanya dijalankan dengan knowledge yang dimiliki. Selain itu, perusahaan juga memberikan layanan kepada pelanggannya dengan menyediakan seperti nokia ovi, suatu portal yang bisa digunakan untuk pusat layanan dan informasi kepada pelanggan.

Tentu saja, semua perangkat tersebut bisa menjadi alas an e-learning harus diimplementasikan di korporat. Selain potensi yang disediakan oleh system e-learning itu sendiri yaitu untuk ‘branding’, potensi profit, serta menjadi ‘content repository’.

Upaya penghematan pun bisa jadi alas an yang cukup kuat untuk mengimplementasikan e-learning di perusahaan. SDM yang dikirimkan untuk mengikuti pelatihan domestik, regional, maupun internasional dapat membuatkan konten e-learning yang diupload-kan di LMS-nya. Sehingga karyawan lainnya bisa turut belajar untuk meningkatkan kompetensinya. Selain itu, dengan knowledge repository yang tersedia, reservasi pengetahuan akan terjamin. Selain itu perngkat komunikasi yang dimiliki oleh LMS dapat dijadikan sebagai alat perusahaan untuk membuat interkoneksitas dengan stakeholder-nya. Management trainee pun bisa diselenggarakan dengan lebih murah, mengingat segenap bahan yang digunakan sudah tersedia secara online.

Secara system, e-learning untuk saat ini merupakan system yang terjangkau, fleksible setting, mobile, 24/7, bisa diakses setiap saat, dan dari mana saja, mobile, dan lainnya.

Sudah saatnya bagi kita untuk mengimplementasikan system e-learning untuk institusi atau korporasi tempat kita bernaung. Siapkah?

(AB, Pelatihan E-learning untuk Korporat, Bandung, 24 Nov2009)

Post

Apa yang Dilakukan Teknologi terhadap Pengajaran

Dalam Uncategorized pada November 14, 2009 oleh ariefbb

 

Manusia menciptakan teknologi untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya. Membacakan buku untuk haikal mengenai teknologi roda dan mobil, semakin sadar bahwa teknologi mempengaruhi proses yang dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Dan ternyata teknologi yang ditemukan memberikan impact ke kehidupan manusia lainnya, baik di sisi positif ataupun sisi negatif.

Dalam pembelajaran contohnya, saya termasuk yang mengalami proses perubahan dalam pembelajaran yang ditunjang oleh teknologi. Pada saat saya masuk kuliah pertama kali di tahun 1996, pada saat itu guru-guru saya menyampaikan materinya dengan menggunakan talk and chalk technologies. Media yang dipake adalah papan tulis. Kami pun menjadi pencatat yang baik, walau kadang saya sering tidak pede dengan catatan saya dan seringnya menjelang ujian, meminjam catatan teman dan meng-copy-nya. walaupun teman yang dipinjami sering kelimpungan, mencari catatannya ada di siapa…

Kemudian tahun berikutnya hampir semua ruangan menggunakan media overhead projector (OHP). Saya mengamati guru-guru saya pada saat itu menggunakan transparansi untuk mengajar. Sering saya lihat, sebelum ke kelas, guru saya membuatkan bahan-bahannya dengan menulis di transparansi. selesai kuliah, kami pun meng-copy transparansi tersebut. Bahkan sering ada teman yang jadi koordinator meng-copy transparansi tersebut.

Era berikutnya, muncul infocus proyektor. Proses pembelajaran pun semakin menarik. Laptop inventaris jurusan menjadi tumpuan untuk menjadi media menyampaikan materi kuliah. Bahkan seringkali, laptop tersebut sudah tidak ada ditempat, karena dipake bentrokan, dipake oleh guru yang lain padahal kita sudah booking sebelumnya. Dengan perangkat tersebut, para guru sudah membuat bahan presentasi dengan menggunakan powerpoint. Kami pun, mendapatkan hasil print presentasi tersebut dan meng-copy-nya untuk bahan belajar.

Seiring semakin banyak laptop, maka OHP mulai ditinggalkan. Para guru sudah semakin banyak yang membawa laptopnya ke kelas. Kami pun, sekarang selalu menyediakan USB Flashdisk. Setiap selesai kuliah, kami antri untuk mendapatkan bahan presentasi dari guru kami tersebut. Alhasil, virus-virus yang ada di USB beredar dan masuk ke laptop guru kami tersebut.

Sekarang, setelah tersedianya Coursehomepage kuliah.. para guru tidak bersedia lagi untuk memberikan bahan powerpointnya kepada kami menggunakan media usb flashdisk. Beliau menyuruh kepada siswa-siswinya untuk mengambil bahan presentasinya dari LMS (Learning Management System). Tentu saja, sekarang laptop guru kami tersebut menjadi ‘sedikit’ aman dari virus-virus dan antrian USB Flashdisk pasca kuliah.

Ehm.. Kalau dilihat dari transformasi yang terjadi, maka Pembelajaran elektronik akan menjadi fenomena yang biasa kedepan. Walaupun saat ini hal tersebut masih menjadi hal yang ‘menyulitkan’. Mudah-mudahan seiring dengan perkembangan infrastruktur yang ada, pemanfaataan LMS untuk pembelajaran online bisa semakin optimal.

(AB, Malang 14 Nov 2009)

Post

Windows 7, Google Wave, Microsoft IT Academy, KIB II

Dalam Uncategorized pada Oktober 25, 2009 oleh ariefbb

Bulan Oktober dah hampir lewat. Sekedar berbagi, di Bulan Oktober ini, ada banyak hal yang terjadi yang secara langsung atau tidak langsung cukup mempengaruhi terkait dengan tugas-tugas yang kukerjakan. Beberapa diantaranya adalah Windows 7, Google Wave, Microsoft IT Academy, KIBII.

Dimulai dengan awal minggu kemarin, kami mendapat kiriman Windows 7 DVD. Sehingga mulailah era 7-isasi di-office-ku. Kalau lihat background-nya, dah hampir 4-5 tahun lalu era XP-isasi. Setelah sekian lama, komputer kemudian menjadi rentan dengan beragam serangan virus, trojan dan sejenisnya. Ketika Vista di-luncurkan, setelah diamati ternyata kemampuan hardware tidak terlalu mendukung untuk melakukan program Vista-isasi. Namun dengan adanya Windows 7, sepertinya layak untuk diujicoba-kan untuk menggantikan OS std dari XP ke 7. Sebelum nantinya menemukan OS opensource yang layak untuk dipertimbangkan menggantikan Microsoft OS. Yup.. era 7 akan dimulai di ComLabs. All staff diminta untuk support menyiapkan proses migrasinya secara bertahap sehingga thn 2010, mudah-mudahan XP tinggal jadi kenangan.

Seiring dengan masuknya 7 ke office-ku. penasaran dengan program M-ITA (Microsoft IT Academy), kucoba eksplorasi full program dan proyeksinya kedepan. Lumayan, banyak hal yang bisa diperoleh untuk kemudian membuat rancangan blended learning untuk materi Microsoft. Beberapa tim, kucoba libatkan untuk mengakselerasi peluncuran program ini. Tentu saja dengan harapan bisa memberikan banyak benefit bagi segenap civitas akademika di ITB.

Ditambah lagi, hari ini, 25 Okt 09, email dari google wave masuk ke e-mailku. Dituliskannya, bhw akun google wave-ku dah aktif. Sudah sekitar 2 minggu lalu, aku coba registrasi untuk memperoleh akun tsb. Bukan apa-apa, beberapa hal perlu untuk saya eksplorasi dari aplikasi ini. Terutama fitur-fitur baru yang disediakannya. Mudah-mudahan saja tercetus ide untuk mengembangkan sistem yang di-support oleh google wave. Jadinya, mulai hari ini, mulailah daku mengeksplorasi google wave, satu bentuk social apps yang katanya akan menyaingi FB.

Mengenang sedikit kebelakang, KIB II dah dilantik. Hopefully, bisa membawa perubahan yang membawa kepada dinamika perbaikan bangsa. Saya sendiri cenderung agak pesimis, lihat rekam jejak sebelumnya serta kelambanan proses dalam menghadapi beberapa event yang terjadi akhir-akhir ini. Tapi kenapa tidak, kita tidak boleh berhenti untuk berharap… Good Luck all KIB II, wish you have good performance which the nation need!

Post

IDLN Meeting – Mengelola Konten oleh Arief Bahtiar

Dalam Uncategorized pada Oktober 11, 2009 oleh ariefbb

Beberapa hari lalu saya sempat lihat di wired.com, “Google’s Abandoned Library of 700 million Titles”.

Konten di era internet sangat erat kaitannya dengan mensosialisasikan kontent tersebut menggunakan media internet. Untuk itu, perlu untuk ditelaah tren perkembangan lingkungan pengembangan konten tersebut yang meliputi : perangkat komputer untuk digitalisasi, infrastruktur network, internet dan aplikasi, serta organisasi

Mengelola konten di institusi pendidikan khususnya bisa diarahkan pada tujuan untuk mengembangkan konten yang ada diinstitusi menjadi sangat berharga untuk pribadi, institusi, nasional, serta bisa go internasional. Yaitu bagaimana satu konten atau lebih tersebut bisa dilihat, dicari, serta digunakan oleh banyak orang.

Berkaitan dengan tren preangkat, dewasa ini perkembangan perangkat akses dan perangkat digitalisasi demikian pesat. Selain server yang digunakan sebagai repository untuk penyimpanan konten, berkembang juga perangkat-perangkat aksesnya, yaitu PC, Laptop, Netbook, Mobile dan lainnya.

Disisi edukasi perangkat sendiri, saat ini di pendidikan dasar telah diajarkan menggunakan perangkat OLPC sebagai media untuk pembelajaran. Pengaruh dari pembelajaran dini tersebut memberikan dampak besar terhadap pemanfaatan teknologi informasi yang digunakan oleh siswa, mahasiswa, dan umum.

Sedangkan komputer sendiri berevolusi menjadi bentuk yang dinamis. Konsep rancang bangun komputer berkembang menjadi seni tersendiri yang kadang-kadang para desainer menggambarkan konsep komputer yang unik dengan mengedepankan unsur estetika serta fungsional. Hasilnya kemudian diterjemahkan oleh para engineer menjadi bentuk komputer yang kemudian muncul di pasaran.

Proses Penciptaan Konten & Digitalisasi

Dengan adanya perangkat-perangkat yang saat ini terus tumbuh dan berkembang, proses penciptaan konten pun turut mengalami transformasi. Proses penciptaan karya menjadi sangat dimudahkan dengan adanya teknologi. Setiap hari pada saat beraktivitas, ada ragam kejadian yang kemudian kita rekam dengan menggunakan perangkat yang ada, kemudian kita olah dengan menggunakan perangkat komputer, hasilnya kita publikasikan di mediayang tersedia secara online. Hasil tersebut kemudian dapat dinikmati dan digunakan oleh banyak orang dari seluruh dunia.

Proses tersebut kemudian dipersingkat, dengan perangkat mobile yang terkoneksi 3G atau GPRS. Hasil rekaman dari kamera pada perangkat mobile kemudian secara langsung dapat dikirimkan ke situs-situs repositori. Hal tersebut menjadikan konten menjadi lebih ‘realtime’. Informasi kemudian dapat disisipkan berdasarkan paradigma dan latarbelakang masing-masing individu. Konsep What you see is what you get!, menjadi hal yang lumrah.

Valuasi Konten

Kemudian setelah konten tersebut terpublikasikan, apa yang perlu dilakukan? Valuasi konten. Salah satu cara yang mudah-mudah-susah adalah mensosialisasikan konten tersebut sehingga semakin banyak orang yang lihat. Sarana yang digunakan adalah media internet. Mengenai hal ini, diperlukan pembahasan khusus mengenai teknik search engine optimisation. Tapi yang pasti, media yang lengkap dengan konten-konten pastilah menjadi media yang paling dicari.

Persoalannya adalah bagaimana supaya media yang kita pegang menjadi lengkap dengan konten-konten. Caranya adalah mendedikasikan SDM yang secara khusus menata konten-konten yang ada. Orang tersebut harus ditugaskan oleh institusi untuk mengelola konten pada sistem disana.

Menarik untuk dicermati, kompas sebagai salah satu pemegang oplah koran nasional yang paling besar, sejak beberapa waktu lalu sangat memperhatikan versi kompas onlinenya. Bahkan kompas telah memiliki situs epaper.com yang merupakan digitalisasi koran kompas hariannya. Saat ini, keduanya baik kompas online dan juga epaper.kompas tersedia secara gratis. Tentu saja, apabila pandangan orang sempit, kompas tidak mungkin menyediakan epaper-nya karena hal tersebut akan mengurangi oplah kompas cetaknya.

Tapi ternyata tidak demikian, strategi bisnis kompas elektronik ini terus dijalankan. Karena ternyata dari sekian ratus juta warga Indonesia, tidak semua dapat dicapai oleh distribusi koran kompas cetak. Tapi mereka tetap dapat menikmati konten berita, iklan, dan lainnya dari kompas epaper dan kompas online. Tentu saja dengan cost produksi pencarian berita dan lainnya dari koran kompas tidak bertambah. Cost-nya barangkali hanya untuk menyediakan infrastruktur teknologi informasi saja.

Dari hal tersebut, digitalisasi konten sebenarnya bukanlah menjadi pesaing dari konten lainnya. Konten digital merupakan komplementer dari konten fisik. Bahkan konten digital bisa jadi satu daya ungkit konten fisik. Daya dukung konten digital yang kemudian dipublikasikan akan sangat berpengaruh pada tersosialisasikannya konten fisik.

Demikian pula halnya dengan jenis konten citra, gambar, serta audio visual. Pada saat ini konten tersebut yang didigitalisasi bisa menjadi leverage bagi personal, institusi, bahkan nasional yang kemudian bisa go internasional.

Organisasi

Kaitannya dengan organisasi, hasil karya organisasi kemudian dapat dipublikasikan dalam bentuk konten-konten organisasi. Dengan karya tersebut, ditambah dengan valuasi konten yang ada diharapkan menjadi satu bentuk sumbangsih organisasi yang kemudian dapat diapresiasi oleh khalayak. Dengan apresiasi tersebut, kelak satu saat nanti peluang dan harapan mendapatkan revenue dari konten yang dipublikasikan bisa terpenuhi. Dengan revenue tersebut roda organisasi bisa semakin cepat berputar.

Tantangan Digital Peservartion

Akhirnya tiba pada tantangan yang dihadapi oleh IDLN, yaitu menggunakan dan mengombinasikan segenap kebijakan, strategi, dan tindakan untuk menjamin akses terhadap konten-konten digital yang dipublikasikan setiap saat.

Tentu saja hal tersebut harus didasarkan pada rasa yang sama, pikiran, yang sama, dan perbuatan yang sama untuk bersama-sama memajukan konten digital di Indonesia.

Post

Masih tentang SEO Blended Learning ITB

Dalam Uncategorized pada September 29, 2009 oleh ariefbb

Masih menjadi sorotan saya terkait dengan upaya ujicoba alias testing untuk SEO atau Search Engine Optimisation situs yang saat ini sedang saya pantau saat ini, Blended learning. Apabila berhasil, maka model tersebut akan diterapkan dalam lingkungan yang lebih luas.

Situs Blended Learning merupakan salah satu situs yang hit-nya diprediksi akan paling tinggi di lingkungan Institut Teknologi Bandung. Mahasiswa atau pun dosen akan selalu akses ke situs ini baik dari dalam kampus ataupun dari luar. Fungsi situs ini sebagai pintu gerbang ke perkuliahan blended di ITB, menjadi alasan tingginya akses ke situs ini.

Sebagai upaya meningkatkan visibilitas situs itb.ac.id, maka beberapa langkah SEO dilakukan. Setelah beberapa waktu masih diurutan yang tidak patut diperhitungkan, saat ini situs blended learning ITB mulai menunjukkan peningkatan yang lumayan signifikan. Dengan menggunakan mesin pencari googe, dengan kata kunci yang dituliskan : blended learning itb, maka situs ini akan muncul pertama. Padahal sebelumnya, malah tulisan dari blog yang muncul pertama kali. Demikian juga saat dituliskan : blended learning, urutan situs ini mulai merangkak naik sampai ke urutan 7 di google.

Besar harapan saya, situs ini bisa menjadi situs urutan pertama untuk kata kunci blended learning. Dan langkah-langkah yang dilakukan pun bisa dijadikan sebagai standar search engine optimisation untuk situs-situs lain di ITB.

blendedlearning itb 1

gambar 1 pencarian untuk kata kunci : blended learning

blendedlearning itb 2

gambar 2 pencarian dengan kata kunci : blended learning itb

Post

Ied Mubarak

Dalam Uncategorized pada September 22, 2009 oleh ariefbb

eidmubarak